PEKALONGAN - 20 Oktober 2026. DI Desa Karangdowo, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, peninggalan era kolonial bernama Brug Plengkung berdiri kokoh. Masyarakat mewariskan legenda bahwa jembatan ini dibangun dalam satu malam dan dijaga oleh jin dari Baghdad bernama Mbah Kartubi.
Namun, sebuah legenda tidak bisa ditelan mentah-mentah. Ia menuntut kita membedahnya dari dua sisi: sebagai simbol perlawanan sosiologis dan melalui pendekatan fakta di lapangan.
1. Makna Tersembunyi di Balik Mitos (Dekonstruksi Sejarah)
Jika ditelaah, legenda ini adalah "teks sejarah" masyarakat akar rumput untuk menyandikan trauma masa lalu:
- Metafora Kerja Paksa: Pembangunan "satu malam" adalah hiperbola dari kekejaman kerja rodi. Kecepatan konstruksi yang dibayar dengan darah dan keringat pekerja pribumi dirasionalisasi oleh masyarakat sebagai campur tangan gaib.
- Perlawanan Kultural (Identitas Islam): Hadirnya "Jin Baghdad", bukan roh lokal, menunjukkan akar Islam pesisir yang kuat. Ini adalah cara masyarakat menegaskan bahwa secara fisik jembatan itu milik Belanda, namun secara spiritual dikuasai entitas Islam.
- Konservasi Tradisional: Ketakutan warga akan sosok Mbah Kartubi secara tidak langsung menjadi "sistem keamanan" yang melindungi bangunan dari pencurian material atau vandalisme di masa lalu.
2. Tabayun atas Legenda: Antara Cerita Lisan dan Fakta
Meski maknanya dalam, realitas di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda. Hasil wawancara terhadap 10 warga di sekitar Brug Plengkung memperlihatkan beragam tingkat pengetahuan:
- Enam responden sama sekali tidak mengetahui atau mengenal sosok Mbah Kartubi.
- Empat responden mengaku pernah mendengar, namun tidak mampu menjelaskan kisahnya secara terperinci.
Menariknya, warga yang pernah mendengar cerita ini menunjukkan sikap kehati-hatian. Mereka mengembalikan perkara gaib kepada kuasa Allah dan mengajak perlunya tabayun sebelum menarik kesimpulan mutlak.
Akhir Kata: Batas Legenda dan Fakta
Sikap bijak warga menjadi pengingat: mendengar cerita tidak sama dengan mengetahui sejarah pasti, dan keyakinan tidak bisa menggantikan bukti otentik. Brug Plengkung adalah saksi bisu yang memadukan arsitektur kolonial, jerit pekerja pribumi, dan kearifan lokal.
Upaya ini bukan untuk merendahkan kepercayaan masyarakat, melainkan untuk mendudukkan secara proporsional batas antara legenda tutur, keyakinan batin, dan kebenaran sejarah yang objektif.
Jurnalis: Media Asalam, Redaktur: Tim Allnet-work

Posting Komentar